Lingkungan

Dampak Merebaknya Pandemi COVID-19 Terhadap Lingkungan

Dampak Merebaknya Pandemi COVID-19 Terhadap Lingkungan

Lingkungan

Merebaknya pandemi Covid-19 telah banyak mengubah cara hidup masyarakat. Segala bentuk aktivitas kini harus beradaptasi dengan situasi untuk memperlambat laju penyebaran penyakit virus Corona sesuai dengan himbauan pemerintah. Sejumlah negara memutuskan untuk  melaksanakan karantina wilayah atau lockdown. Dalam hal ini, Indonesia memilih untuk melaksanakan aturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dimana dalam PSBB sejumlah instansi strategis masih diizinkan beroperasi.

Selain berdampak pada cara hidup masyarakat, adanya pandemi virus Corona juga turut memberi dampak pada lingkungan, akhir – akhir ini masyarakat dibuat terkagum dengan berbagai foto yang menunjukkan pemandangan tidak biasa, seperti cuaca cerah tanpa dihalangi asap polusi udara, kemudian jalanan yang tampak sepi tanpa kemacetan dan salah satu yang menarik perhatian adalah jernihnya kanal – kanal Sungai di Venesia yang biasanya ramai dikunjungi turis.

Dari keadaan ini muncul satu pertanyaan, apakah benar kebijakan karantina wilayah atau lockdown berdampak pada kualitas lingkungan yang lebih baik ? Untuk menjawab pertanyaan ini mari kita lihat pada penelitian yang dilakukan oleh European Space Agency (ESA), dari data yang didapatkan melalui gambar satelit memperlihatkan adanya penurunan nitrogen dioksida (gas polutan udara) di sejumlah kota besar di berbagai negara seperti Paris, Madrid, dan Roma pada tanggal 14-25 Maret 2020 dibandingkan dengan data pada tahun 2019 lalu.

Selain di negara-negara Eropa, Tiongkok yang merupakan negara pertama yang menerapkan lockdown juga menunjukkan data yang sama, yaitu adanya penurunan polusi udara secara signifikan, bahkan sebesar 20% – 30% jika dibandingan dengan data tiga tahun lalu. Penurunan polusi udara juga terjadi di Amerika Serikat, Italia, dan Spanyol.

Sementara itu di Indonesia khususnya kualitas udara di Jakarta setelah menerapkan PSBB, dikutip dari rilis Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) tercatat mengalami penurunan gas polutan NO2 sekitar 40%  dibandingkan tahun 2019.  Tapi penurunan tidak terjadi pada polutan udara jenis PM 2,5 ( konsentrasi polusi partikulat kecil ), angka PM 2,5 masih tinggi. Menurut standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) batas maksimal konsentrasi PM 2.5 adalah 25 mikrogram per meter kubik, sedangkan data pada tangal 1 Januari sampai diberlakukan PSBB pada 22 April angka PM 2,5 di Jakarta masih diatas standar WHO.

Namun yang perlu menjadi catatan, penurunan polusi udara NO2 ini tidak serta-merta membuat kita dapat menyimpulkan bahwa kebijakan lockdown dapat memberikan dampak besar terhadap lingkungan. Hal ini karena tingkat pencemaran polusi udara sendiri dapat berubah setiap waktunya, berdasarkan aktivitas kendaraan bermotor maupun industri, jika pada suatu waktu aktivitas industri atau lalu lintas kendaraan kembali meningkat dari sebelumnya, kualitas udara suatu wilayah dapat berubah juga. Akan berbeda jika ada perubahan gaya hidup yang masif untuk menerapkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan saat maupun setelah pandemi ini.

Selain itu, isu lingkungan merupakan permasalahan yang kompleks yang melibatkan banyak faktor untuk menjamin kelestarian lingkungan. Salah satunya adalah sampah, yang menjadi persoalan baru di tengah merebaknya pandemi virus Corona, penumpukan sampah medis tidak dapat dihindari, upaya penanganan yang masih terbatas menjadi salah satu hal yang akan berdampak besar terhadap lingkungan. Selain itu, sampah medis juga akan berdampak pada penyebaran virus jika tidak dikelola dengan baik, Dibutuhkan protokol khusus yang harus dipatuhi dalam mengelola sampah medis.

Saat ini masih banyak rumah sakit yang belum memiliki teknologi pengelolaan limbah medis bahan berbahaya dan beracun. Menurut Sekretaris Jenderal Perkumpulan Ahli Lingkungan Indonesia atau Indonesian Environmental Scientist Association (IESA) Lina Mugi Tri Astuti, yang mengutip laporan Kementerian Kesehatan, dari 2.852 rumah sakit yang ada di Indonesia, baru 96 rumah sakit yang memiliki insinerator (alat untuk pembakaran sampah sampai  habis) dari insinerator yang ada tidak semua berfungsi dengan layak.

Dalam implementasinya, penggunaan insinerator harus mengikuti prosedur khusus agar tidak menimbulkan dampak lingkungan lainnya. Karena insinerator dapat menimbulkan emisi gas yang dapat mencemari lingkungan. Sementara itu, saat ini baru tiga rumah sakit di Indonesia menggunakan autoklaf. Pengelolaan sampah dengan menggunakan autoklaf (alat pensterilan berupa ruangan kedap udara) masih minim. Padahal penggunaan autoklaf lebih ramah lingkungan karena teknik sterilisasi dengan menggunakan autoklaf tidak melalui proses pembakaran (non insinerasi) sehingga tidak menyebabkan pencemaran udara.

Sebagai pembanding, mari melihat upaya pemerintah Tiongkok, saat Wuhan menjadi episentrum pandemi Covid-19, selain membangun rumah sakit dalam waktu singkat, pemerintah Tiongkok juga membangun tempat pembuangan sampah baru untuk pembuangan limbah medis dalam waktu singkat, karena pengelolaan sampah medis yang lama tidak mencukupi. Saat itu, rumah sakit di Wuhan dalam sehari dapat menghasilkan sampah enam kali lebih banyak yaitu setara 240 ton dari biasanya hanya 40 ton. Pemerintah Tiongkok juga melakukan pengangkutan sampah secara mobile, menambah jumlah kendaraan pengangkutan sampah dan membangun insinerator di dekat rumah sakit sementara, sehingga dapat lebih cepat dikelola. Selain itu pabrik pembuangan limbah industri diubah untuk mengelola sampah medis.

Selain sampah medis, permasalahan sampah plastik juga menjadi salah satu soal yang pengelolaannya perlu disorot saat ini. Hal ini karena sampah plastik dan bekas kemasan makanan akan cenderung meningkat karena akses keluar rumah dibatasi. Adanya keterbatasan akses tersebut mengubah pola konsumen masyarakat yang lebih memilih transaksi melalui layanan seluler. Saat ini rumah makan atau kafe lebih banyak menerima pesan antar dan masih banyak yang memilih menggunakan plastik sekali pakai untuk pengemasan.

Peningkatan pembelanjaan kebutuhan pokok juga cenderung dilakukan melalui layanan seluler. Menurut survei yang dilaksanakan oleh Telunjuk.com, data menunjukkan dibeberapa e-commerce seperti Tokopedia, Shopee dan Bukalapak terdapat kenaikan belanja daring untuk kebutuhan pokok sekitar 400%, data diambil pada tanggal 2 Maret sampai 5 April.

Sampah plastik telah lama menjadi persoalan bagi lingkungan. Sebagian besar sampah plastik masih dibuang ke tempat pembuangan akhir bahkan ke laut tanpa proses pengelolalaan lebih lanjut sehingga menggangu ekosistem laut. Ellen Macarthur menyebutkan bahwa pada tahun 2050 sampah plastik akan lebih banyak jumlahnya dibanding ikan di lautan, jika ini terjadi maka akan mengganggu rantai makanan dan ekosistem. Maka dari itu pada masa pandemi ini, pengelolaan sampah plastik harus segera diperhatikan pengelolaannya dan diminimalisir penggunaannya. Adanya Pandemi Covid-19 telah banyak mempengaruhi sejumlah aspek kehidupan. Banyak negara dalam hal ini mulai menerapkan sejumlah kebijakan untuk membatasi segala bentuk aktivitas. Melalui berbagai pemberitaan disebutkan bahwa kebijakan lockdown ini membawa dampak pada membaiknya kualitas udara, namun sebenarnya permasalahan baru muncul yakni permasalahan sampah medis dan plastik yang meningkat dikarenakan pemusatan aktivitas di rumah sakit dan di rumah – rumah. Perlu adanya kebijakan strategis dari pemerintah dan masyarakat untuk memilih opsi yang lebih ramah lingkungan dalam menghadapi permasalahan lingkungan di masa pandemi Covid-19. Karena permasalahan pada lingkungan juga penting dan butuh upaya masif dan konsisten untuk mencegah kerusakan lingkungan.

Sumber : By Koalisi Pemuda Hijau Indonesia

Tinggalkan komentar

Open chat
1
Hai, ada yang bisa kami bantu?